Review Jujur Film Tentang Mistress Dispeller. Mistress Dispeller (2024) karya sutradara Elizabeth Lo menjadi salah satu dokumenter paling menarik dan hangat dibicarakan menjelang akhir 2025. Tayang perdana di Venice Film Festival September 2024, rilis teatrikal di AS sejak 22 Oktober 2025 oleh Oscilloscope, review film berdurasi 94 menit ini menyelami dunia industri “love” baru di China: profesi “mistress dispeller” yang bertugas memutuskan hubungan selingkuh pasangan suami-istri. Dengan akses intim luar biasa ke keempat pihak—istri (Mrs. Li), suami (Mr. Li), selingkuhan (Fei Fei), dan dispeller profesional Wang Zhenxi—film ini bukan sekadar sensasional, tapi eksplorasi mendalam soal cinta, kesepian, dan harmoni pernikahan di tengah pertumbuhan ekonomi China. Pendekatan observasional Lo, mirip karyanya sebelumnya Stray, membuatnya terasa seperti drama nyata yang penuh empati dan kejutan.
Sinopsis dan Proses Mistress Dispelling
Cerita mengikuti kasus nyata pasangan kelas menengah Mr. dan Mrs. Li. Setelah Mrs. Li tahu suaminya selingkuh dengan Fei Fei—wanita muda dari provinsi yang datang naik kereta ke kota—ia menyewa Wang Zhenxi, seorang “Teacher Wang” yang sudah berpengalaman menangani ratusan kasus. Wang mendekati Mr. Li dan Fei Fei dengan berpura-pura, membangun kepercayaan secara perlahan, lalu meyakinkan Fei Fei untuk mundur tanpa menghancurkan hatinya. Prosesnya melibatkan psikologi halus, peran akting, dan percakapan mendalam—bukan konfrontasi dramatis, tapi pendekatan penuh empati. Film menunjukkan bagaimana Wang memahami akar masalah: Fei Fei merasa tak layak dicintai sepenuhnya, Mr. Li terbelah antara dua perasaan, dan Mrs. Li berjuang mempertahankan pernikahan panjang mereka. Semua adegan tak direka ulang, dan Lo menekankan persetujuan ulang dari semua pihak sepanjang proses, termasuk setelah akhir cerita.
Performa Subjek dan Akses yang Luar Biasa
Yang bikin film ini spesial adalah kerentanan luar biasa dari para subjek. Mrs. Li tampil tegas tapi rapuh—dari main badminton agresif hingga menangis diam saat potong rambut. Mr. Li terlihat terpecah, sementara Fei Fei membawa rasa kesepian yang menyentuh. Wang Zhenxi jadi pusat pesona: bijak, strategis, tapi penuh kasih sayang—ia tak menghakimi, malah mendengarkan semua pihak. Akses ini jarang ada di dokumenter; Lo butuh waktu bertahun-tahun mencari kasus tepat, dan semua pihak setuju tampil dengan wajah asli (meski film tak bisa tayang di China demi privasi). Sinematografi Lo indah dan tenang, musik Brian McOmber menambah nuansa melankolis, dan Puccini aria jadi penguat emosi. Tak ada villain—hanya orang-orang kesepian mencari koneksi di dunia modern.
Kelebihan dan Kekurangan
Kekuatan utama film ini adalah keseimbangan antara survei sosiologis dan studi karakter intim. Ia mengungkap industri “mistress dispeller” yang booming seiring meningkatnya perselingkuhan di China pasca-pertumbuhan ekonomi, tanpa jadi eksploitatif. Empati Lo terhadap semua pihak membuat penonton ikut merasakan kompleksitas hati manusia—bisa mulai simpati ke istri, lalu berpindah ke selingkuhan. Visualnya elegan, nada campur antara absurd dan tulus, humor halus muncul dari situasi aneh, tapi selalu ada rasa haru. Kekurangannya mungkin pada diskresi berlebih: Lo menghindari detail seks atau finansial, membuat beberapa subjek terasa agak samar sebagai individu. Bagi yang suka drama tinggi, prosesnya terasa lambat dan tanpa ledakan emosi besar. Tapi justru itulah yang membuatnya autentik dan menyentuh. Rating Rotten Tomatoes 95% dari 42 kritikus mencerminkan pujian luas sebagai dokumenter paling menarik tahun ini.
Kesimpulan Mistress Dispeller
adalah dokumenter luar biasa yang berhasil menggabungkan keberanian akses, empati mendalam, dan wawasan budaya tanpa jatuh ke sensasionalisme murahan. Elizabeth Lo membuktikan lagi dirinya sebagai sutradara dokumenter top dengan pendekatan observasional yang halus, menghasilkan film yang tak hanya informatif tapi juga menyentuh hati. Bagi yang penasaran soal cinta di era modern, atau ingin melihat perspektif segar tentang pernikahan, ini tontonan wajib—mungkin bikin kamu berpikir ulang tentang hubungan sendiri. Tak ada pemenang atau pecundang mutlak, hanya manusia yang rapuh mencari tempatnya. Selamat menonton, dan siapkan diri untuk merenung panjang setelahnya!

