review-film-the-black-phone-2-teror-telepon-lagi

Review Film The Black Phone 2: Teror Telepon Lagi?

Review Film The Black Phone 2: Teror Telepon Lagi? The Black Phone 2 yang tayang sejak Oktober 2025 langsung jadi salah satu sekuel horor paling ditunggu tahun itu. Disutradarai Scott Derrickson lagi, film ini lanjutkan kisah dari The Black Phone (2021) dengan Ethan Hawke kembali sebagai The Grabber, meski hanya dalam bentuk cameo dan visi hantu. Fokus cerita bergeser ke Finney Blake (Mason Thames) yang kini remaja, masih trauma setelah kejadian sebelumnya, dan harus hadapi teror baru ketika adik perempuannya Gwen (Madeleine McGraw) mulai dengar suara-suara dari telepon hitam yang “mati”. Dengan durasi 1 jam 48 menit dan budget US$35 juta, film ini sudah raup US$420 juta global hingga Januari 2026. Rating Rotten Tomatoes 83% kritikus dan 91% penonton, CinemaScore A-. Pertanyaannya: apakah teror telepon ini masih bikin merinding, atau sekuelnya terasa lelah? BERITA BASKET

Kekuatan Atmosfer dan Ketegangan yang Masih Kuat di FilmThe Black Phone 2

Scott Derrickson kembali tunjukkan keahliannya membangun ketegangan lambat tapi menyesakkan. Rumah keluarga Blake dibuat sangat claustrophobic—koridor gelap, loteng berdebu, dan telepon hitam tua yang terasa hidup sendiri. Suara dering telepon, bisikan anak-anak korban, dan suara napas The Grabber bikin penonton merinding dari menit-menit awal. Adegan paling mencekam adalah ketika Gwen mulai dapat panggilan dari korban lama—suara anak-anak yang memohon tolong terasa sangat nyata dan menyayat hati. Visualnya tetap sederhana tapi efektif: pencahayaan redup, bayangan panjang, dan close-up wajah yang penuh ketakutan. Ethan Hawke sebagai The Grabber muncul dalam bentuk hantu dan visi—masker dan suara seraknya tetap bikin bulu kuduk berdiri, meski screen time-nya terbatas. Mason Thames sebagai Finney dewasa dan Madeleine McGraw sebagai Gwen jadi duo kakak-adik yang kuat—chemistry mereka terasa autentik dan emosional.

Performa Cast dan Cerita yang Lebih Emosional dari Film The Black Phone 2 Mason Thames berhasil bawa Finney yang sudah trauma tapi berusaha lindungi adiknya—ia tak lagi anak kecil polos, tapi remaja yang mulai paham kegelapan dunia. Madeleine McGraw sebagai Gwen mencuri perhatian—karakternya lebih berani, sarkastis, dan punya “power” supranatural yang lebih kuat dari Finney. Performa McGraw jadi salah satu yang terbaik di film horor anak tahun ini. Cerita kali ini lebih fokus pada trauma keluarga dan rasa bersalah—Finney merasa bertanggung jawab atas kejadian sebelumnya, sementara Gwen berjuang terima “kutukan” yang dia warisi. Tema penerimaan trauma dan kekuatan saudara terasa lebih dalam dibanding film pertama. Ada momen emosional antara Finney dan Gwen yang bikin penonton terharu, terutama di adegan akhir yang bittersweet.

Kelemahan dan Perbandingan dengan Film Pertama: Review Film The Black Phone 2: Teror Telepon Lagi?

Meski kuat, film ini punya kelemahan di orisinalitas dan pacing. Beberapa adegan teror terasa mirip film pertama—telepon berdering, suara anak hilang, dan visi hantu—tanpa banyak inovasi baru. Babak tengah agak lambat karena terlalu banyak build-up dan flashback, bikin ketegangan kadang turun. Twist akhirnya cukup mengejutkan tapi tak seikonik “kematian tak bisa ditipu” di franchise Final Destination. Ada juga kritik bahwa film ini terlalu bergantung pada nostalgia—banyak referensi ke film pertama tanpa tambah elemen baru yang benar-benar segar. Dibandingkan The Black Phone 2021 yang revolusioner dengan konsep telepon hantu, Bloodlines terasa lebih “aman” meski tetap mencekam.

Respon Penonton dan Dampak: Review Film The Black Phone 2: Teror Telepon Lagi?

Penonton Indonesia suka banget—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak yang nonton berulang untuk adegan jumpscare dan momen emosional kakak-adik. Box office US$420 juta (dengan proyeksi akhir US$550–600 juta) tunjukkan sukses komersial, meski tak sebesar Inside Out 2. Di media sosial, klip telepon berdering dan momen Gwen teror jadi viral. Film ini juga bantu buka diskusi soal trauma masa kecil dan kekuatan keluarga di kalangan remaja. Blumhouse kembali bukti mereka jagonya bikin horor murah tapi berkualitas. Sekuel ketiga sudah diumumkan untuk 2028, dengan rumor fokus pada generasi baru lagi.

Kesimpulan

The Black Phone 2 adalah sekuel yang berhasil bawa kembali teror telepon dengan cara yang lebih emosional dan mencekam. Mason Thames dan Madeleine McGraw jadi duo kakak-adik yang kuat, visual gelap, dan adegan jumpscare efektif bikin film ini layak ditonton. Meski pacing tengah agak lambat dan kurang inovatif, film ini tetap jadi horor keluarga yang menyentuh dan menyeramkan. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka horor psikologis dengan sentuhan emosi. Kalau suka The Black Phone pertama, ini upgrade yang layak. Nonton kalau belum—siapkan tisu untuk momen emosional dan jantung untuk jumpscare. Maut datang lagi, dan kali ini terasa lebih dekat ke hati. Horor ini masih punya nyawa panjang!

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *