Review Film Split. Film Split yang dirilis pada 2016 kembali mencuri perhatian di akhir 2025 ini. Thriller psikologis karya M. Night Shyamalan ini semakin sering dibahas ulang, terutama karena warisannya sebagai bagian tak terpisahkan dari trilogi superhero grounded yang dimulai dari film sebelumnya. Cerita tentang Kevin Wendell Crumb, pria dengan 23 kepribadian yang menculik tiga remaja untuk “persembahan” kepribadian ke-24 yang mengerikan, tetap memikat dengan twist akhir yang menghubungkannya ke universe lebih besar. Di tengah diskusi tentang performa aktor utama dan relevansi tema gangguan mental, film ini terus dianggap sebagai comeback kuat Shyamalan, sukses besar dengan pendapatan ratusan juta dolar dari budget minim, serta inspirasi bagi thriller modern yang mengeksplorasi pikiran manusia. BERITA BOLA
Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film Split
Split mengikuti Kevin, pria dengan dissociative identity disorder yang telah didiagnosis 23 kepribadian, dari yang pemalu hingga manipulatif. Ia menculik tiga gadis remaja—Casey yang traumatis, serta dua temannya—dan mengurung mereka di bawah tanah. Kepribadian dominan seperti Dennis yang obsesif kebersihan dan Patricia yang protektif bergantian mengendalikan tubuh Kevin, sambil menunggu kemunculan “The Beast”, alter superkuat yang diyakini suci. Casey, dengan masa lalu pelecehan, mencoba memanfaatkan perbedaan kepribadian untuk bertahan. Alur penuh ketegangan claustrophobic, dengan flashback yang ungkap trauma Kevin dan Casey secara paralel. Twist di akhir tidak hanya mengguncang, tapi juga menyambung cerita ke dunia lebih luas, meninggalkan penonton dengan rasa kagum dan penasaran yang bertahan lama.
Akting dan Penampilan Para Pemain: Review Film Split
James McAvoy sebagai Kevin dan seluruh kepribadiannya memberikan performa tur de force, beralih dari anak kecil Hedwig yang polos ke Dennis yang dingin atau Patricia yang anggun dengan transisi mulus dan meyakinkan. Ia berhasil membuat setiap alter terasa unik, dari aksen hingga gerak tubuh, menjadi salah satu akting paling ikonik di genre thriller. Anya Taylor-Joy sebagai Casey membawa kedalaman emosional, dengan ekspresi halus yang sampaikan trauma tanpa kata berlebih, menjadikannya kontras sempurna bagi kekacauan Kevin. Betty Buckley sebagai psikiater Dr. Fletcher menambah lapisan intelektual, sementara aktris pendukung seperti Haley Lu Richardson turut memperkuat rasa takut korban. Arahan Shyamalan memaksimalkan performa ini, dengan close-up intens yang buat penonton ikut merasakan perpecahan batin karakter.
Tema dan Warisan Film
Split mengeksplorasi tema trauma sebagai pemicu kekuatan atau kehancuran, dualitas pikiran manusia, serta stigma gangguan identitas disosiatif—meski menuai kritik karena penggambaran yang dianggap stigmatisasi. Elemen supernatural halus, seperti kemampuan fisik The Beast, memperkaya metafor tentang bagaimana penderitaan bisa “menciptakan” monster atau pahlawan. Di 2025, warisannya semakin kokoh sebagai jembatan trilogi yang inovatif, memengaruhi film tentang psikologi kompleks dan superhero realistis. Kesuksesannya membuktikan Shyamalan bisa bangkit dengan cerita orisinal, terus memicu debat tentang batas realitas dan fikisi, serta tetap menjadi acuan bagi aktor yang ingin tantang peran multipel.
Kesimpulan
Split bukan thriller penculikan biasa, tapi potret brilian tentang pikiran yang retak dan survival di tengah kegilaan. Dengan akting luar biasa McAvoy, twist cerdas, serta tema mendalam, ia tetap relevan dan mengguncang hampir satu dekade kemudian. Di akhir 2025, saat diskusi trilogi semakin marak, ini momen ideal untuk menyaksikannya ulang atau pertama kali, karena kedalamannya selalu beri perspektif baru. Sebuah karya yang membuktikan kekuatan sinema psikologis, layak jadi salah satu thriller paling berpengaruh era ini.

