Film Upstream
Film Upstream

Review Jujur Film Berjudul Upstream

Review Jujur Film Berjudul Upstream. Upstream (judul asli Cina: Ni Xing Ren Sheng atau 逆行人生) tetap jadi salah satu film drama Cina paling dibicarakan di akhir 2025, meski rilis utama pada Agustus 2024. Disutradarai dan dibintangi Xu Zheng (juga dikenal sebagai Zheng Xu), film berdurasi sekitar 2 jam 1 menit ini tayang di bioskop Cina dan kini tersedia di platform streaming seperti Netflix untuk penonton internasional. Cerita mengikuti Gao Zhilei, seorang programmer berusia 45 tahun yang di-PHK karena “kutukan usia 35” di industri tech, lalu terpaksa jadi pengantar makanan online untuk bertahan hidup bersama keluarga. Dengan rating Douban sekitar 6.8 dan pujian atas realisme serta kritik terhadap gig economy, review film ini jadi cermin kehidupan kerja di Cina modern—penuh hustle, tekanan, dan pencarian makna.

Sinopsis Film Upstream dan Tema Sosial yang Kuat

Gao Zhilei (Xu Zheng) impulsif memilih jadi suami rumah tangga setelah istri (Xin Zhilei) mendapat promosi, tapi keputusan itu berbalik jadi mimpi buruk saat ia dipecat dari pekerjaan lama. Dengan ayah sakit, anak ingin sekolah internasional, cicilan rumah, dan tabungan menipis, ia terpaksa bergabung dengan platform pengantaran makanan. Film ini menyoroti perjuangan harian: lalu lintas padat, tekanan rating app, pelanggan kasar, hingga kompetisi ketat antar rider. Babak pertama fokus pada realisme keras—diskriminasi usia, penurunan status sosial, dan beban keluarga—sementara babak akhir lebih ke “hustle” Gao yang menggunakan skill programming untuk bikin app bantu pengantaran, plus lomba jadi rider terbaik. Tema utama: adaptasi di era gig economy, kritik terhadap kapitalisme yang kejam, dan pesan bahwa kerja apa pun bermartabat asal tulus.

Performa Xu Zheng dan Produksi Film Upstream

Xu Zheng sebagai sutradara sekaligus aktor utama jadi kekuatan terbesar. Ia tampil convincing sebagai pria paruh baya yang jatuh dari posisi tinggi ke bawah, dengan ekspresi campur antara frustrasi, humor kering, dan ketangguhan. Xin Zhilei sebagai istri memberikan keseimbangan emosional, sementara pendukung seperti Wang Xiao dan Jia Bing tambah warna pada komunitas rider. Produksi realistis: syuting di jalanan Shanghai/Chongqing, visual gelap dan kota hujan yang mencerminkan tekanan hidup, serta soundtrack yang mendukung tanpa over. Gaya Xu Zheng terasa hangat dan relatable, dengan humor Cina khas yang ringan tapi menyentil isu sosial. Banyak penonton puji bagaimana film ini menangkap “rasa” kerja gig—dari kelelahan fisik hingga tekanan psikologis—tanpa terasa terlalu melodramatis di awal.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan utama adalah realisme dan relevansi: film ini berhasil buat penonton merasakan tekanan hidup kelas menengah di Cina, terutama “kutukan 35” dan eksploitasi gig worker. Bagian pertama sangat kuat dalam kritik sosial—menunjukkan diskriminasi usia, tekanan finansial, dan empati terhadap rider yang sering diabaikan. Banyak yang bilang ini “film yang menyentuh hati” dan mengubah perspektif terhadap profesi pengantar. Namun, kekurangan terletak di babak kedua: transisi ke “overcoming adversity” terasa contrived, dengan elemen drama berlebih seperti kecelakaan dan lomba yang mirip Olimpiade. Beberapa kritikus sebut film ini akhirnya meromantisasi hustle dan gig economy alih-alih benar-benar mengkritik sistem—akhir optimis terasa terlalu manis, seolah kerja keras selalu membuahkan hasil meski realitas sering tidak. Ada juga tudingan eksploitatif karena memanfaatkan penderitaan kelas pekerja untuk hiburan.

Kesimpulan

Upstream adalah drama sosial yang jujur, relatable, dan menggugah—terutama bagi yang pernah merasakan tekanan kerja modern atau “midlife crisis”. Xu Zheng berhasil bikin film yang menyentuh hati sambil menyisipkan kritik tajam terhadap gig economy dan diskriminasi usia, meski akhirnya agak terlalu optimis dan dramatis. Ini bukan film sempurna, tapi sangat layak ditonton karena keberaniannya mengangkat isu nyata tanpa basa-basi. Bagi penonton Cina atau siapa saja yang paham hustle hidup kota besar, film ini bisa jadi pengingat sekaligus motivasi. Di akhir 2025, saat ekonomi masih sulit bagi banyak orang, Upstream terasa lebih relevan dari sebelumnya. Siapkan tisu, tapi juga siap untuk refleksi panjang—ini film yang bikin kamu berpikir ulang soal kerja dan hidup. Selamat menonton!

Baca Selengkapnya…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *